MOMEN

Minggu, 29 Mei 2016

FPPTI DIY Embeded Librarianship Tour: 16-19 maret 2016


FPPTI DIY bersama Kopertis V: "Standardisasi Perpustakaan" 25-26 Mei 2016

Materi dari Kopertis V
Heri Abiburachman Hakim (FPPTI DIY)
Peserta tampak antusias
Presiden FPPTI DIY 2013-2016 sebagai pemateri

Mengembangkan ide kreatif pengembangan perpustakaan


Perpustakaan, secara umum dianggap sebagai tempat meminjam dan mengembalikan buku. Pustakawan dianggap sebagai orang yang pekerjaannya meminjamkan dan mengembalikan buku. Tidak dipungkiri, ini adalah stigma umum terhadap perpustakaan dan pustakawan.  Namun, telah ada perpustakaan dan pustakawan yang pekerjaan dan kegiatannya tidak sekedar meminjamkan dan mengembalikan buku.
Di antara dua perpustakaan tersebut, dua pimpinannya menjadi pembicara pada  seminar yang diselenggarakan oleh FPPTI DIY (19/5). Prof. Djoko Saryono (UM) dan Dr. Taufiq Abdul Gani (UNSYIAH). 

Pada awal presentasi, Prof. Djoko mengawali dengan landasan fundamental bahwa perpustakaan itu penting. Dengan merujuk pada sejarah peradaban manusia, yang tidak bisa dipisahkan dengan pustaka, kemudian peran pustaka yang mampu membawa ide masa lalu tetap dapat dinikmati sekian periode setelahnya. Terkait pengembangan perpustakaan, ditekankan pentingnya cermat memandang peluang dan penempatan yang tepat tentang posisi perpustakaan.

“Berfikir cepat, untuk menentukan posisi perpustakaan dalam sebuah institusi itu penting”, jelas Prof. Djoko.

Dengan latar belakang seorang dosen dan sastrawan, Prof. Djoko memoles perpustakaan UM menjadi lebih membumi dan berperan sebagai tempat berkumpulnya berbagai pihak dengan berbagai latar belakang untuk berdiskusi tentang berbagai hal. Untuk mewujudkan hal ini, Prof. Djoko membangun komunitas Kafe Pustaka dengan jargonKate nandi bro, ngopi kene lho iso pinter". Ngopi merupakan kependekan dari ngobrol-pinter. Konon kabarnya, Prof. Djoko menyenangi kopi. Mungkin ini juga menjadi alasan pemilihan “ngopi” dari pada “ngeteh.
Kafe Pustaka (KP), dalam arti sebuah kafe tempat makan-minum, dibangun melibatkan berbagai pihak, dengan tanpa “ngrusuhi” anggaran. Kegiatan di KP juga dilakukan dengan kerjasama berbagai pihak; mahasiswa, komunitas eksternal dan lainnya. Hal ini yang menjadi nilai lebih dari seorang Prof. Djoko. Luasnya pergaulan, sangat berperan dalam membuat ide dan mengerjakannya. “Peristiwa dan kegiatan ilmiah = pustaka”, demikian tegasnya terkait kegiatan di KP UM, yang setiap bulan menembus 20-an kegiatan. 

Komunitas yang bergabung di KP ini, disebut Prof. Djoko dengan komunitas epistemik, dengan berbagai latar belakang, strata sosial dan strata pendidikan untuk menawarkan ide-ide terkait topik bahasan.

------
Pembicara kedua, adalah Dr. Taufiq Abdul Gani, dilakangan pustakawan akrab dipanggil dengan TopGan. Perubahan besar terhadap perpusakaan Unsyiah terjadi di era Pak TopGan. Di antaranya mendapatkan akreditasi dari Perpusnas, lolos ISO 9001:2008. Selain itu, sebagai seorang kepala perpusakaan dua periode, TopGan juga mendapatkan Lifetime Achievement Award dari BEM Unsyiah atas ide kreatifnya dalam pengembangan perpusakaan Unsyiah. Tentu saja, hal ini adalah “akreditasi” level tertinggi kepada sebuah perpustakaan, karena dikeluarkan dari pengakuan pemustaka langsung. 



Lalu bagaimana kiprah TopGan dalam mengembangkan perpustakaan?

TopGap membagi materinya menjadi: kreatifitas, komunitas, partisipasi pengguna dan infrastruktur.
Kreatifitas, sebagaimana kutipan TopGan adalah mengubah ide baru yang masih imajinatif menjadi kenyataan, menghasilkan solusi dari pola tersembunyi yang tak berhubungan. Ditekankan bahwa jika kita punya ide namun tak bergerak untuk mewujudkan ide itu, kita adalah orang yang imajinatif namun tidak kreatif.

Diperlukan pekerjaan atau kegiatan kolaboratif antara pustakawan dan pemustaka, sebagai backup kegiatan harian yang bersifat perulangan agar dapat meminimalisir kebosanan di perpustakaan. Atas dasar hal tersebut, perpustakaan Unsyiah bergerak untuk berubah menjadi tempat yang terbuka, tempat berekspresi, punya penekanan (impresi). Berbagai terobosan yang dilakukan adalah pengaturan tata ruang yang mendukung gaya belajar mahasiswa, berkolaborasi dengan mahasiswa dengan menyelenggarakan kegiatan Relax and Easy @unsyiah_lib, optimalisasi jam layanan.

Apakah hal tersebut dilakukan sendiri oleh pustakawan? Tidak. Di sinilah kejelian TopGan. Tidak jauh beda dengan Prof. Djoko, membagi peran dengan berbagai pihak yang punya kepentingan dengan perpustakaan adalah jalan terbaik agar perubahan dan keberlangsungan perubahan tersebut tetap terjaga. Optimalisasi jam layanan didukung dengan peran mahasiswa yang tergabung dalam Volunteer @unsyiah_lib. Relax and Easy diselenggarakan dengan membidik tema dan pihak tepat. Kejelian melihat situasi yang ada di sekitar, sangat penting. Publikasi kegiatan Perpustakaan Unsyiah diserahkan pada mahasiswa yang gemar menulis yang tergabung dalam Librisyiana. 



membagi peran dengan berbagai pihak yang punya kepentingan dengan perpustakaan adalah jalan terbaik agar perubahan dan keberlangsungan perubahan tersebut tetap terjaga
 
Penghargaan pada berbagai pihak yang turut mendukung perpustakaan, juga dilakukan. Bukan hanya mahasiswa yang rajin, namun juga dosen yang paling banyak membawa mahasiswanya ke perpustakaan. Penghargaan pada kemauan mahasiswa/dosen ke perpustakaan juga diwujudkan dalam pelonggaran aturan “tas boleh dibawa masuk ke perpustakaan”. Tentunya beberapa hal ini menjadikan perpustakaan benar-benar milik semua, yang harus dijaga oleh semua.

----------------------
Latar belakang keilmuan, jejaring yang dimiliki, passion terhadap pustaka, interest pada bidang tertentu, kemampuan mempengaruhi, penentuan skala prioritas, sangatlah terlihat dalam peran Prof. Djoko dan Dr. Taufiq Abdul Gani dalam pengembangan perpustakaan.
Sembari melakukan berbagai inovasi, kreatifitas yang dapat terlihat nyata di mata pemustaka, perluasan kekuatan perpustakaan pada kebijakan formal tetap dilakukan. Senat, rektor, biro keuangan, biro perencanaan adalah beberapa pihak yang harus diperhatikan dalam perluasan aspek formal tersebut. Bagaimana menembusnya? Mengubah wajah perpustakaan, menghadirkan peran baru dan penting perpustakaan, kemudian mengubah mindset para pemimpin tersebut untuk menempatkan perpustakaan benar-benar pada tempatnya yang sesuai.

Slide Prof. Djoko Saryono, dapat diunduh di klik,  makalah unduh di klik. Slide Dr. Taufiq Abdul Gani, dapat diunduh di klik.


Kamis, 19 Mei 2016

Heri Abiburachman Hakim, nahkoda baru FPPTI DIY 2016-2019

Saatnya yang muda memimpin..!

FPPTI DIY menyelenggarakan Musda sekaligus seminar di STPN Yogyakarta, 19 Mei 2019. Heri Abiburachman Hakim (Pustakawan ISI Yogyakarta) ditetapkan sebagai Presiden FPPTI DIY 2016-2019.

Heri, ditetapkan menjadi ketua setelah pemilihan yang melibatkan calon incumbent, Anastasia Tri Susiati, MA (Kepala Perpusakaan UAJY). Heri mengumpulkan 17 suara, sedangkan Susi 13 suara, selisih tipis. Dukungan untuk calon incumbent masih besar, tidak dipungkiri memang selama Susi memimpin ada banyak program dan kerjasama yang dilaksanakan. Namun, ternyata pemilih lebih banyak ke Heri, yang merupakan sosok muda. Harapan pada wajah baru, muda dan enerjik tampaknya ada pada para anggota FPPTI.

Lepas dari semua itu, terpilihnya Heri adalah kemenangan semuanya. Sangat terhormat pula, Musda kali ini dihadiri oleh Ketua FPPTI Pusat, Imam Budi Prasetyawan (Kepada Perpustakaan Bina Nusantara Jakarta). Maka legitimasi hasil Musda menjadi lebih kuat.


Heri, merupakan Pustakawan ISI Yogyakarta yang menempuh jenjang pendidikan bidang kepustakawan secara linear. Mulai dari Diploma 3 di FISIPOL UGM, S1 Ilmu Perpustakaan di UIN Sunan Kalijaga, serta S2 Ilmu Perpustakan juga dari UIN Sunan Kalijaga. Heri, sangat aktif dalam bidang kepustakawanan, aktif dalam berbagai organisasi formal dan komunitas, presentasi dalam berbagai kegiatan ilmiah, menulis dalam berbagai jurnal dan surat kabar. Semasa kuliah D3, Heri dikenal sebagai kutu buku dan sudah memulai hobi menulisnya. 

Jejaring Heri pun cukup luas, mulai dari kalangan pustakawan plat merah, pustakawan komunitas, pustakawan perguruan tinggi. Kemampuannya dalam bergaul juga membawanya menjadi pengurus organisasi di kampungnya. 

Selamat, untuk Heri Abiburahman Hakim, SIP., teriring harapan semoga FPPTI DIY semakin maju.

Dokumentasi dan Slide Seminar "Menggali Ide Kreatif Pengembangan Perpustakaan" FPPTI DIY 19 Mei 2016

Kamis, 19 Mei 2016 menjadi hari bersejarah bagi keluarga besar FPPTI DIY. Selain seminar, juga digelar musda untuk memilih ketua baru. Dinamika seminar, sungguh sangat luar biasa. Banyak ide-ide disampaikan oleh dua pembicara (berita terkait).

Slide Prof. Djoko Saryono, dapat diunduh di klik,  makalah unduh di klik. Sementara slide Dr. Taufiq Abdul Gani, dapat diunduh di klik.
Berikut beberapa dokumentasi kegiatan....

Sambutan Ketua STPN

Pembicara dan Moderator

Heri Abiburachman Hakim, Ketua FPPTI DIY terpilih, bersama panitia

iringan musik dari taruna STPN
Ketua FPPTI Pusat memberi sambutan atas terpilihnya Heri Abiburachman Hakim